Thursday, 20 September 2018

SEJARAH SEKULARISME

Sekularisme merupakan sebuah ideology yang pada mulanya berkembang di dunia Barat dan menyebar hampir ke seluruh penjuru Dunia tak terkecuali dunia islam. Paham ini mempunyai tujuan yaitu memisahkan antara hak Tuhan dengan hak Manusia atau memisahkan antara urusan Manusia dengan urusan Tuhan.


Pengertian Sekularisme


Istilah secular berasal dari bahasa latin Saeculum yang memiliki dua konotasi yaitu time dan location. Waktu menunjukan sekarang sedangkan tempat dinisbahkan kepada dunia. Jadi saeculum berarti zaman ini atau masa kini, dan zaman ini atau masa kini menunjukan peristiwa di dunia ini, dan itu juga berarti peristiwa–peristiwa masa kini.[1] Adapun sekularisasi dalam kamus ilmiah adalah hal usaha yang merampas milik gereja atau penduniawian. Sedangkan Sekularisme adalah sebuah gerakan yang menyeru kepada kehidupan duniawi tanpa campur tangan agama.[2]

Al-Attas, dalam bukunya yang berjudul Islam dan Sekularisme, menjelaskan bahwa sekularisasi didefinisikan sebagai pembebasan manusia, yaitu mula–mula dari agama dan kemudian dari metafisika. Itu berarti terlepasnya dunia dari pengertian–pengertian religious dan religious-semu, terhalaunya semua pandangan–pandangan dunia yang tertutup, terpatahkannya semua mitos supernatural dan lambang–lambang suci. Sekularisme lebih condong kepada proses peralihan fungsi–fungsi dan sifat–sifat keagamaan kearah fungsi–fungsi dan sifat –sifat yang tak bernilai atau yang tidak ada hubungannya dengan keagamaan. Pengertian yang lain menyebutkan sekularisme adalah penduniawian sesuatu yang pada mulanya bersifat atau bernilai keagamaan.

Dari pengertian–pengertian diatas, kata secular, sekularisasi dan sekularisme mempunyai makna dan pengertian yang berbeda–beda. Kata secular berasal dari kata latin saeculum diartikan dengan masa dan tempat yang berlaku sekarang atau masa kini. kata sekularisasi banyak diartikan sebagai proses menuju ke secular dan sekularisme. sedangkan sekularisme banyak diartikan sebagai idiologi yang dihasilkan dari proses sekularisasi.

 Sejarah Munculnya Sekularisme




Bila kita melacak sejarah bangsa Eropa, sekularisme muncul disebabkan pengongkongan gereja dan tindakannya menyekat pintu pemikiran dan penemuan sains. Pihak gereja Eropah telah menghukum ahli sains seperti Copernicus, Gradano, Galileo dll yang mengutarakan penemuan saintifik yang berlawanan dengan ajaran gereja. Kemunculan paham ini juga disebabkan tindakan pihak gereja yang mengadakan upacara agama yang dianggap berlawanan dengan nilai pemikiran dan moral seperti penjualan surat pengampunan dosa, yaitu seseorang boleh membeli surat pengampunan dengan nilai wang yang tinggi dan mendapat jaminan syurga walaupun berbuat kejahatan di dunia.

Disamping itu, Kemudian muncul revolusi rakyat Eropa yang menentang pihak agama dan gereja yang bermula dengan pimpinan Martin Luther, Roussieu dan Spinoza. Akhirnya tahun 1789M, Perancis menjadi negara pertama yang bangun dengan sistem politik tanpa intervensi agama. Revolusi ini terus berkembang sehingga di negara-negara Eropa, muncul ribuan pemikir dan saintis yang berani mengutarakan teori yang menentang agama dan berunsurkan rasional. Seperti muncul paham Darwinisme, Freudisme, Eksistensialisme, Ateismenya dengan idea Nietche yang menganggap Tuhan telah mati dan manusia bebas dalam mengeksploitasi. Akibatnya, agama dipinggirkan dan menjadi bidang yang sangat kecil, terpisah daripada urusan politik, sosial dan sains. Bagi mereka yang melakukan penolakan terhadap sistem agama telah menyebabkan kemajuan sains dan teknologi yang pesat dengan munculnya zaman Renaissance yaitu pertumbuhan perindustrian dan teknologi pesat di benua Eropa.

Dalam perjalananny, Paham ini terus menular dan mulai memasuki dunia Islam pada awal kurun ke 20. Turki merupakan negara pertama yang mengamalkan paham ini di bawah pimpinan Kamal Artartuk. Seterusnya paham ini menelusuri negara Islam yang lain seperti di Mesir melalui polisi Napoleon, Algeria, Tunisia dan lain-lain yang terikat dengan pemerintahan Perancis. Dan, Indonesia, Malaysia masing-masing dibawa oleh Belanda dan Inggeris. Ini dapat kita lihat dengan munculnya dualisme yaitu agama satu sisi dan yang bersifat keduniaan satu sisi. Seperti pengajian yang berasaskan agama tidak boleh bercampur dengan pengajian yang berasaskan sains dan keduniaan.



Disamping itu, sejarah yang paling kental tentang munculnya sekularisme adalah disebabkan dari bentuk kekecewaan (mosi tidak percaya) masyarakat Eropa kepada agama kristen saat itu (abad 15). Di mana kristen beberapa abad lamanya menenggelamkan dunia barat ke dalam periode yang kita kenal sebagai the dark age. Padahal pada saat yang sama peradaban Islam saat itu sedang berada di puncak kejayaannya. Sehingga ketika perang salib berakhir dengan kekalahan di pihak Eropa, walau mereka mengalami kerugian di satu sisi, tetapi, sebenarnya mereka mendapatkan sesuatu yang berharga, yaitu inspirasi pengetahuan. Karena justru setelah mereka “bergesekan” dengan umat Islam di perang salib. Hal tersebut ternyata menjadi kawah lahirnya renaissance beberapa abad setelahnya di Eropa. Setelah mereka menerjemahkan buku-buku filsafat yunani berbahasa arab dan karya-karya filosof Islam lainnya ke dalam bahasa latin. Pada saat Eropa mengalami the dark age, kristen yang sudah melembaga saat itu menguasai semua ranah kehidupan masyarakat Eropa. Politik, ekonomi, pendidikan dan semuanya tanpa terkecuali yang dikenal denga istilah ecclesiastical jurisdiction (hukum Gereja). Semua hal yang berasal dari luar kitab suci Injil dianggap salah. Filsafat yang notabene sebagai al-umm dari ilmu pengetahuan dengan ruang lingkupnya yang sangat luas, mereka sempitkan dan dikungkung hanya untuk menguatkan keyakinan mereka tentang ketuhanan yang trinitas itu. Mereka menggunakan filsafat hanya sekedar untuk menjadikan trinitas yang irasional menjadi kelihatan rasional. Dengan demikian secara otomatis filsafat yang seharusnya menjadi induk dari seluruh ilmu pengetahuan yang ada menjadi mandul dan tidak berfungsi .

Ilmu pengetahuan yang menopang majunya sebuah peradaban malah dimusuhi. Ketika ada penemuan baru yang dianggap bertentangan dengan isi injil dianggap sebagai sebuah pelanggaran yang harus ditebus dengan nyawa. Sebagaimana yaang dialami Copernicus yang menyatakan teori heliosentrisnya yang notabene bertentangan dengan injil yang mengemukan teori geosentris.

Sesuai dengan teori arus air, jika ia ditahan maka lama kelamaan akan menjadi tenaga yang begitu dahsyat untuk mengahancurkan penahannya. Begitu juga yang terjadi di Eropa pada abad 15 dengan apa yang disebut renaissance sebagai lambang dari pembebasan masyarakat Eropa dari kungkungan kristen. Gerakan renaissance ini mulai digerakkan di berbagai lini, seni, gerakan pembaruan keagamaan yang melahirkan kristen protestan, humanisme dan penemuan sains . Yang selanjutnya diteruskan dengan masa enlightenment pada abad ke-18 satu abad setelah lahirnya aliran Filsafat Moderen pada abad ke-17.

Tirani Gereja Kristen—sebagaimana yang kita ketahui—merupakan agama yang cinta damai dan agama cinta kasih. Ini bisa dilihat dari perkataan Yesus yang memerintahkan murid-muridnya untuk memberikan pipi kanan jika dipukul pipi yang kiri. Namun, pada kenyataannya Gereja sebagai kristen yang melembaga justru menjadi tirani bagi bangsa Eropa pada abad pertengahan, yang membuat Eropa terpuruk selama berabad-abad dalam masa yang disebut the dark age. Monopoli pemahaman dan penafsiran injil itu oleh para pemuka kristen (rijâlu ad-dîn) terus berlaku sampai akhirnya kristen mejadi agama resmi Romawi. Justru semenjak itu pula kristen melembaga menjadi institusi Gereja. Monopoli kitab suci semakin menjadi. Yang mana monopoli kitab suci tersebut berbuah kepada monopoli keberagamaan kristen. Monopoli itu pula menjadikan umat kristen sangat bergantung kepada institusi Gereja.

Pokok-Pokok Ideology Sekuralisme




Dari pemaparan history diatas, setidaknya ada beberapa poen yang menurut penulis bisa dijadikan sebagai landasan ideology sekularisme, yaitu:
1. Menolak sistem agama dalam semua urusan dunia seperti politik, sosial, pendidikan dan sebagainya. Bagi mereka agama hanyalah penghalang kepada kemajuan tamadun dan pembangunan sains dan teknologi. Idea-idea agama bersifat kolot dan bertentangan dengan pemikiran akal sehat mereka.


Kehidupan berasaskan kepada rasional, ilmu dan sains. Manusia tidak boleh meletakkan doktrin atau kitab-kitab agama sebagai pegangan kerana ia akan membutakan kehidupan manusia. Manusia mestilah berpegang kepada kajian sains, eksperimen sehingga menemukan hal-hal yang baru.


Menganggap kewujudan sebenarnya adalah melalui pancaindera bukan unsur-unsur rohaniah dan metafisik yang sukar dikesan melalui kajian moden. Paham ini lebih mengutamakan material dan membelakangi spiritual. Kehidupan selepas mati merupakan sesuatu yang bertentangan dengan kajian sains modern dan eksperimen.


Nilai baik dan buruk ditentukan oleh akal manusia bukannya teks agama. Bagi mereka nilai baik dan buruk adalah relatif dan agama menyempitkan konsep nilai baik dan buruk. sehingga, muncullah paham hedonisme yang mengajak manusia bebas melakukan apa saja demi terciptanya kesenangan. Contohnya amalan seks bebas menurut Freud, mempunyai unsur kebaikan pada suatu masa dan keadaan tertentu.


Menganggap alam ini terjadi melalui fenomena sains dan kimia tertentu bukannya kuasa tuhan. Dari anggapan ini muncullah berbagai teori tentang kejadian alam termasuk kekuatan unsur kimia dan atom yang menyebabkan Big Bang sebagai asas kewujudan alam, seolah-olah tuhan tidak terlibat dalam penciptaan alam ini. Sebahagian penganut paham ini menolak tuhan manakala sebahagian yang lain mempercayai tuhan tetapi tuhan tidak mencampuri urusan manusia di dunia. Manusia bebas menentukan kehendak dan mengikut tindakan mereka.

 Sentuhan Sekularisme Terhadap Dunia Islam dan Pandangan Beberapa Tokoh


Salah satu paradigma keilmuan di Barat yang memiliki pengaruh sangat besar di dunia Islam ialah sekularisme teosentrisme, atau tidak terkait dengan aspek-aspek ketuhanan. Istilah sekuler di dunia Islam pertama kali dipopulerkan oleh Zia Gokalp (1875-1924), sosiolog Turki. Istilah ini sering dipahami sebagai sesuatu yang irreligious bahkan anti religius. Dalam bahasa Indonesia kata ini mempunyai konotasi negatif. Sekular diartikan dengan bersifat duniawi atau kebendaan, bukan bersifat keagamaan atau kerohanian sehingga sekularisasi berarti membawa ke arah kecintaan kehidupan dunia, dan karena itu norma-norma tidak perlu didasarkan pada agama.

Dalam bahasa Arab, ada kata ‘alamani dari ‘alam (dunia) yang bermakna duniawi diversuskan dengan yang selain dunia. Istilah tersebut digunakan dan diadopsi dari orang-orang Kristen Arab untuk mengekspresikan gagasan ini sebelum ia menarik perhatian kaum muslimin. Pada masa modern istilah tersebut dibaca kembali menjadi ilmani yang dipahami dalam arti ilmiah dari ilm pengetahuan atau sains yang dilawankan dengan religius yang oleh sarjana muslim dianggap sebagai penafsiran yang keliru sebab dalam Islam dua kata tersebut tidak pernah dipertentangkan.Tegasnya, dalam sejarah Islam tidak terdapat kontradiksi antara agama di satu pihak dengan ilmua pengetahuan atau sains di pihak lain.

Dengan mengacu pada Ensiklopedi Britania, Yusuf Qaradhawi menyebutkan, sekularisme merupakan gerakan kemasyarakatan yang bertujuan untuk memalingkan manusia dari kehidupan akhirat dengan semata-mata berorientasi pada kehidupan dunia. Gerakan sekularisme muncul pada abad kebangkitan yang merupakan bagian dari upaya untuk mendorong manusia untuk meraih kemajuan serta mewujudkan ambisi manusia pada kehidupan dunia. Agama Kristen yang bersifat dogmatik dan cenderung bertentangan dengan berbagai penemuan sains dianggap sebagai penghambat bagi kemajuan. Karena itu, sekularisme merupakan gerakan perlawanan terhadap ajaran dan keyakinan gerejani, demi untuk meraih kebangkitan yang terus berlanjut dalam perkembangan sejarah modern.

Dari sini, sebenarnya sekularisme merupakan sisi gelap kehidupan yang terjadi di abad pertengahan. Saat itu kekuasaaan gereja mendominasi hampir semua aspek kehidupan, termasuk di bidang sains dan teknologi. Para ilmuan melihat kondisi ini sebagai suatu hal yang sangat menghambat bagi kemajuan, sebab hasil penemuan ilmiah yang rasional sekalipun tidak jarang bertentangan dengan doktrin gereja. Galileo Galilai dan Copernicus yang menolak mengubah pendapatnya bahwa mataharilah yang menjadi sentra perputaran planet-planet (heliosentris) dan bukan bumi (geosentris) yang pada saat itu menjadi doktrin gereja, akhirnya dihukum mati. Karena itu, para ilmuan dan negarawan sampailah pada kesimpulan bahwa jika masyarakat ingin mencapai kemajuan, maka ia harus meninggalkan agama; atau setidaknya membiarkan agama berada pada wilayah ritual murni; sedangkan wilayah duniawi (seperti sainstek, politik, pemerintahan, ekonomi dan budaya) harus steril dari wilayah agama. Inilah awal munculnya sekularisme.

Atas hal demikian, menurut uraian Qaradhawi, sekularisme menganggap bahwa agama tidak layak menjadi fondasi moralitas dan pendidikan. Karena itu, sekularisme memandang bahwa agama atau hal-hal yang bernuansa agama tidak boleh masuk ke dalam pemerintahan, atau pertimbangan-pertimbangan keagamaan harus dijauhkan dari pemerintahan. Sejalan dengan ini, sekularisme merupakan peraturan atau ketentuan moralitas yang berlandaskan pemikiran yang mewajibkan ditegakkannya nilai-nilai perilaku dan moral menurut kehidupan modern dan solidaritas sosial tanpa memandang pada landasan agama.

Sekularisme yang merupakan pemisahan agama dari berbagai aspek kehidupan, menurut An-Nabhani, seakan-akan menjadi “aqidah” yang melahirkan serangkaian hasil pemikiran duniawi, yang sering disebut ilmu. Ideologi kapitalime merupakan produk sekularisme yang melahirkan paham demokrasi, di mana semua peraturan dan perundang-undangan diserahkan kepada manusia, bukan menggunakan aturan Allah. Bahkan An-Nabhani menegaskan bahwa sekularime bagi masyarakat Barat menjadi sebuah keyakinan atau akidah, dimana kapitalisme atau paham serba kebebasan berdiri tegak di atas azas sekularisme tersebut.

Mengacu pada uraian Kuntowijoyo, bahwa ilmu-ilmu sekular yang merupakan lawan dari ilmu-ilmu keagamaan merupakan produk manusia, yang melahirkan diferensiasi dan pemisahan yang jelas antara ilmu umum dan agama serta klaim objektivitas masing-masing. Maka, lahirlah apa yang disebut sebagai dikotomi dan dualisme keilmuan. Selanjutnya Kuntowijoyo menggambarkan:

Ilmu sekuler mengaku diri sebagai objektif, value free bebas dari kepentingan lainnya. Tetapi, ternyata bahwa ilmu telah melampaui dirinya sendiri. Ilmu yang semula adalah ciptaan manusia telah menjadi penguasa atas manusia. Ilmu menggantikan kedudukan wahyu Tuhan sebagai petunjuk kehidupan. Sekulerisme muncul karena klaim yang berlebih-lebihan dari ilmu. Juga muncul karena antroposentrisme dan diferensiasi filsafat. Dunia yang sekuler diramalkan oleh ilmu sebagai masa depan manusia. Kalau dahulu antroposentrisme dan diferensiasi terbatas dalam ilmu dan perilaku, sekarang ini sekulerisme telah menjadi aliran pemikiran menggantikan keyakinan agama. Seluruh kehidupan diyakini akan menjadi sekuler bahkan agama akan lenyap atau hanya menjadi spiritualitas dan menjadi kesadaran kosmis. Sekularisme adalah eskatologis manusia modern.

Sejalan dengan uraian tersebut, Huston Smith mengakui bahwa sains secular-yang sering diklaim sebagai sains Barat modern-cenderung mengakhiri dan menyingkirkan dimensi-dimeni transendental dalam proses pemusan teori-teori ilmiah. Manusia sebagai penemu sains telah dengan congkak mengakhiri dan menafikan peran Tuhan yang dominan sebagai pencipta dan pengatur semesta. Dalam pandangan dunia yang religious, menurut Smith, manusia merupakan pihak yang kekurangan, yang memperoleh dari yang lebih (Tuhan). Manusia merupakan hasil ciptaan Tuhan. Sains sekuler telah menjungkirbalikan pandangan ini, dengan menempatkan manusia sebagai pihak yang lebih, yang memperoleh sesuatu dari yang kurang (Tuhan). Dalam kamus keilmuan sekuler, lanjut Smith, tidak ada yang lebih cerdas kecuali manusia. Manusia mampu mencipta, mengkreasi, menetapkan aturan, dan menetapkan tujuan hidupnya, dan tidak mengkaitkan diri pada Tuhan


.

No comments:

Post a Comment